Bagaimana teknologi mengaburkan kebenaran? (Bagian 1)

Sosial media telah menelan berita – mengancam pendanaan reportase bagi kepentingan publik dan mengantarkan pada era ketika semua orang memiliki faktanya sendiri. Konsekuensinya jauh melampaui dunia jurnalistik.

Artikel ini diterjemahkan dari the Guardian Long Read: How Technology Disrupted The Truth?, oleh Katharine Viner, 12 Juli 2016

Senin pagi pada bulan September lalu, masyarakat Inggris terbangun dengan berita mengejutkan. Perdana Menteri (PM) David Cameron telah melakukan “tindakan cabul dengan kepala babi mati”, menurut Daily Mail. “Pernyataan kontemporer dari Oxford menyebutkan Cameron ambil bagian dalam upacara inisiasi memalukan di acara Piers Gaveston, melibatkan babi mati,” lapor koran tersebut. Piers Gaveston adalah nama sebuah perkumpulan klub jamuan makan di Universitas Oxford. Penulis berita mengklaim narasumber mereka, seorang anggota parlemen, yang melihat bukti foto. “Menurut pengakuannya, PM masa depan Inggris memasukkan bagian pribadi tubuhnya ke dalam (kepala) hewan”.

Cerita yang diambil dari buku biografi terbaru Cameron tersebut segera menjadi sensasi. Hal ini sudah melampaui batas, membuka peluang untuk mempermalukan seorang perdana menteri elit, dan sebagian merasa berita tersebut memang mencerminkan perilaku seorang mantan anggota Bullingdon Club. Dalam beberapa menit, #Piggate dan #Hameron menjadi tren di Twitter. Bahkan politisi senior bergabung merayakannya. Menurut Nicola Sturgeon skandal ini “menghibur seluruh negeri”. Sementara Paddy Ashdown bergurau bahwa Cameron “memonopoli (hogging) headline”. Semula, BBC menolak memberitakan tuduhan itu dan No 10 Downing Streeet (kantor PM Inggris) enggan menanggapi – tetapi, dengan segera, mereka terpaksa memberikan penyataan sanggahan. Begitulah, seorang pejabat tinggi negara dapat dipermalukan secara seksual, tanpa menggunakan politik memecah belah, serta menggunakan siasat yang sulit untuk direspon. Tetapi siapa peduli? Toh Cameron bisa menerimanya.

Sehari setelah euphoria menguasai internet, sesuatu yang menggemparkan kembali terjadi. Isabel Oakeshott, wartawan Daily Mail, penulis sekunder buku biografi dengan Lord Ashcroft, seorang pengusaha miliarder, muncul di Televisi. Dia mengakui tidak tahu apakah skandal menghebohkan tersebut benar adanya. Ketika ditekan untuk memberikan bukti atas tuduhan sensasionalnya, Oakeshott bilang tidak memilikinya.

“Kami sungguh tidak bisa mendapatkan bukti atas tuduhan narasumber” katanya di Channel 4 News. “Jadi kami sebatas memberitakan kejadian yang dilaporkan oleh narasumber … Kami tidak mengatakan apakah tuduhan tersebut benar atau salah.” Dengan kata lain, tidak ada bukti bahwa PM Inggris pernah “memasukkan bagian pribadi tubuhnya,” ke dalam mulut babi mati – sebagaimana dilaporkan oleh puluhan surat kabar dan diulang dalam jutaan Tweets dan status Facebook, yang, hingga hari ini mungkin masih banyak yang mempercayai kebenarannya.

Lebih lanjut, Oakeshott membebaskan dirinya dari tanggung jawab jurnalistik: “Terserah orang untuk memutuskan apakah tuduhan tersebut benar atau salah,” pungkasnya. Ini, tentu saja bukan pertama kalinya sebuah tuduhan konyol diberitakan berdasarkan bukti lemah, tetapi merupakan upaya pembelaan diri yang “ngawur”. Tampaknya wartawan tidak lagi harus percaya atas kebenaran berita mereka sendiri, atau, kemungkinan mereka tidak membutuhkan bukti. Melainkan tergantung pada pembaca – yang bahkan tidak tahu identitas narasumber – untuk menentukan pikirannya sendiri. Tapi berdasarkan apa? Insting, intuisi, suasana hati?

Apakah kebenaran tidak dibutuhkan lagi?


 

Sembilan bulan setelah Inggris terbangun dari cekikikan atas dugaan keintiman Cameon dan babi, pada tanggal 24 Juni, masyarakat kembali terjaga sembari menyaksikan PM berdiri di luar Downing Street pada pukul 08:00, mengumumkan pengunduran dirinya.

“Masyarakat Inggris telah memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa dan keinginan mereka harus dihormati,” Cameron berseru. “Ini bukan keputusan mudah, sebagaimana disampaikan oleh berbagai pihak mengenai pentingnya referendum ini. Hasilnya tidak boleh dipertanyakan.”

Yang kemudian menjadi jelas adalah hampir semuanya masih perlu dipertanyakan. Pada masa berakhirnya kampanye yang mendominasi berita selama berbulan-bulan, diketahui bahwa pihak yang memenangkan referendum tidak mempunyai rencana: bagaimana atau kapan Inggris akan keluar dari Uni Eropa. Janji manis yang diberikan oleh Vote Leave untuk memenangkan referendum pun sirna. Pada pukul 06:31 hari Jumat tanggal 24 Juni, satu jam setelah hasil referendum diumumkan, pemimpin UKIP Nigel Farage mengakui setelah Brexit, tidak ada dana cadangan £ 350 juta/minggu untuk biaya NHS (Asuransi Kesehatan Nasional) – janji utama Brexiter yang terpampang jelas di bus kampanye Vote Leave. Beberapa jam kemudian, MEP (anggota parlemen EU) dari Partai Tory, Daniel Hannan, mengatakan imigrasi tidak mungkin berkurang – janji palsu lainnya.

Ini bukan pertama kalinya politisi gagal memberikan apa yang telah mereka janjikan, tetapi mungkin kali pertama mereka mengakui memberikan janji palsu sehari setelah kemenangan. Referendum kali ini adalah pemilu besar pertama di era politik pasca-kebenaran: kampanye Remain yang lesu berupaya untuk melawan fantasi dengan fakta, tetapi kemudian mejumpai bahwa nilai tukar mata uang fakta sedemikian rendahnya.

Poster Brexit terpampang di salah satu mobil pada bulan Juni 2006. Foto:David Holt, CC BY 2.0

Berbagai fakta mengkhawatirkan yang disampaikan Vote Remain dan para pakar dikandaskan sebagai “(Program Ketakutan (Project Fear)” – dan dengan cepat dinetralisir dengan “fakta” tantangan: jika 99 pakar mengatakan perekonomian akan ambruk dan satu orang tidak setuju, BBC memberitakan bahwa masing-masing pihak memiliki pandangan yang berbeda. (Ini adalah kesalahan fatal yang berakhir dengan pengaburan kebenaran, sebagaimana terjadi pada pemberitaan isu perubahan iklim.) Michael Gove mengatakan “masyarakat di negeri ini sudah muak dengan para pakar” di Sky News. Dia juga membandingkan 10 pemenang Nobel Ekonomi yang menandatangani surat anti-Brexit dengan para ilmuwan Nazi yang setia kepada Hitler.

Selama berbulan-bulan, pers Euroskeptis menyiarkan setiap pernyataan meragukan dan mencerca setiap peringatan dari para pakar, mengisi halaman depan yang disandingkan dengan menjamurnya berita terkait isu anti-migran – banyak dari berita tersebut kemudian dikoreksi secara diam-diam dengan cetakan ukuran mini. Seminggu sebelum pemungutan suara – pada hari yang sama ketika Nigel Farage meluncurkan poster menghasut  “Breaking Point“, dan anggota parlemen Partai Buruh Jo Cox, yang telah berkampanye tanpa lelah untuk pengungsi, ditembak mati – sampul depan Daily Mail menampilkan gambar para migran di belakang sebuah truk memasuki Inggris, dengan judul “Kami dari Eropa – biarkan kami masuk!”. Pada hari berikutnya, Daily Mail dan Sun, yang juga memuat berita ini, dipaksa untuk mengklarifikasi bahwa penumpang gelap tersebut berasal dari Irak dan Kuwait.

Kebebalan untuk mengabaikan fakta tidak berhenti setelah referendum: akhir pekan ini, kandidat pemimpin Partai Konservatif Andrea Leadsom, selepas berperan sebagai aktor utama untuk kampanye keluar dari EU, menunjukkan pudarnya kekuatan alat bukti. Diawalnya, dia mengeluarkan pernyataan kepada Times bahwa sebagai seorang ibu, dia akan menjadi PM unggulan dibandingkan saingan (kandidat perempuan) Theresa May. Kemudian dia menyangkal berita tersebut sebagai “jurnalistik abal-abal (gutter journalism)!”. Dan dia menuduh surat kabar memelintir pernyataannya – meskipun dia yang mengatakan hal tersebut, dengan jelas dan definitif serta ada bukti rekaman. Leadsom adalah politisi pasca-kebenaran bahkan tentang kebenarannya sendiri.

Ketika sebuah fakta mulai menyerupai apapun yang Anda nilai benar, menjadi sangat sulit bagi pihak manapun untuk meyakinkan perbedaan antara fakta sejati dan “fakta” palsu. Vote Leave sangat menyadari hal ini – dan mengambil keuntungan penuh, aman dari kontrol Otoritas Standar Periklanan yang tidak memiliki kewenangan untuk mengatur tuduhan politik. Beberapa hari setelah pemungutan suara, Arron Banks, donor terbesar UKIP dan penyandang dana utama dari kampanye Leave.EU, mengatakan kepada Guardian bahwa pihaknya mengetahui secara jelas kalau fakta tidak akan menang. “Yang diadopsi adalah pendekatan media gaya Amerika,” kata Banks. “Mereka mengatakan dari awal ‘Fakta tidak berfungsi’, itu saja. Tetapi kampanye Remain memberikan fakta, fakta, fakta, fakta, fakta. Hal ini tiada guna. Anda harus terhubung dengan masyarakat secara emosional. Ini adalah kunci keberhasilan (Donald) Trump. ”

Sangat mengejutkan ketika beberapa orang tercengang setelah mengetahui bahwa Brexit kemungkinan membawa konsekuensi serius dan hanya sedikit manfaat dari yang semula dijanjikan. Ketika “fakta-fakta tidak berfungsi” dan pemilih tidak percaya kepada media, semua orang percaya dengan “kebenaran” mereka sendiri – dan hasilnya, seperti yang baru saja kita lihat, sangat mengerikan.

Bagaimana kita sampai di sini? Dan bagaimana kita memperbaikinya?


 

Dua puluh lima tahun setelah situs pertama diluncurkan, semakin jelas bahwa kita hidup di masa transisi yang rumit. Selama 500 tahun setelah Gutenberg, format utama dari informasi adalah halaman cetak: pengetahuan sebagian besar disampaikan dalam format permanen, yang mendorong pembaca untuk percaya pada kebenaran yang bersifat konstan dan langgeng.

Sekarang, kita terperangkap dalam rangkain perselisihan kusut antara kekuatan yang berlawanan: antara kebenaran dan kepalsuan, fakta dan rumor, kebaikan dan kekejaman; antara yang sedikit dan banyak, yang terhubung dan terasing; antara platform terbuka internet sebagaimana visi pembuatnya dan media terkawal seperti Facebook dan jaringan sosial lainnya; antara masyarakat yang paham informasi dan massa yang tertipu.

Kesamaan umum atas perselisihan tersebut – dan mengapa resolusinya menjadi penting – yaitu semuanya berkaitan dengan runtuhnya derajat kebenaran. Ini bukan berarti bahwa tidak ada kebenaran. Ini hanya berarti, sebagaimana menjadi sangat jelas pada tahun ini, bahwa kita tidak bisa sepakat atas kebenaran-kebenaran tersebut, dan ketika tidak ada konsensusnya ditambah dengan buntunya jalan untuk mencapainya, yang terjadi kemudian adalah kekacauan.

Semakin kesini, yang dianggap fakta hanyalah pendapat seseorang yang merasa benar – dan teknologi memudahkan “fakta” ini disebarkan dengan cepat dan dengan jangkauan yang tidak terbayangkan pada era Gutenberg (atau bahkan satu dekade lalu ). Sebuah cerita meragukan tentang Cameron dan babi muncul di tabloid pada suatu pagi, kemudian siang harinya, tersebar di seluruh dunia melalui media sosial dan diberitakan oleh kantor-kantor berita terpercaya. Hal ini tampaknya sepele tetapi konsekuensinya sangat serius.

“Kebenaran”, seperti ditulis oleh Peter Chippindale dan Chris Horrie dalam Stick It Up Your Punter!, sejarah surat kabar Sun, adalah “pernyataan tegas yang dicetak oleh setiap surat kabar pada saat bahaya”. Biasanya ada beberapa fakta saling bertentangan untuk setiap permasalahan, namun di era mesin cetak, kata-kata pada setiap halaman dipaku rapat-rapat, terlepas dari realitas atau tidak. Informasi dianggap seperti kebenaran, setidaknya sampai hari berikutnya ketika ada tambahan keterangan atau koreksi, dan kita semua berbagi fakta umum.

“Kebenaran” tetap ini biasanya diturunkan dari atas: kebenaran yang dibangun, seringkali ditempatkan oleh lembaga. Pengaturan ini bukan tanpa cela: terlalu banyak media menunjukkan bias terhadap status quo dan rasa hormat kepada otoritas, dan sangat sulit bagi masyarakat awam untuk menantang kekuatan lembaga pers. Sekarang, masyarakat tidak percaya pada apa yang disajikan sebagai fakta – terutama jika fakta tersebut tidak nyaman, atau tidak sinkron dengan pemikiran mereka. Sebagian prasangka ini salah pada tempatnya, sebagian tidak.

Kampanya anti-Brexit oleh anak muda di London

Di era digital, sangat mudah untuk mempublikasikan informasi palsu, yang dengan cepat disebarkan dan dianggap sebagai kenyataan – seperti yang sering kita lihat pada situasi darurat, ketika berita muncul secara waktu nyata. Salah satu contohnya, selama teror serangan pada November 2015 di Paris, rumor dengan cepat menyebar di media sosial bahwa Louvre dan Pompidou Centre menjadi sasaran, dan François Hollande terkena stroke. Kantor berita terpercaya diperlukan untuk meredam desas-desus semacam ini.

Terkadang rumor seperti ini menyebar karena panik, kebencian, dan manipulasi yang disengaja oleh lembaga atau rezim yang membayar orang untuk menyebarkan pesan mereka. Apapun motifnya, kebohongan dan fakta sekarang menyebar dengan cara serupa, melalui apa disebut oleh akademisi “information cascade (jeram informasi)”. Seperti yang disampaikan oleh pakar hukum dan online-harassment, Danielle Citron, “masyarakat meneruskan gagasan orang lain, meskipun informasi tersebut bohong, menyesatkan atau tidak lengkap, karena mereka merasa telah mendapatkan pembelajaran berharga.” Siklus ini berulang, dan sebelum Anda tahu itu, arus jeram menjadi tak terbendung. Anda membagikan postingan teman di Facebook, mungkin untuk menunjukkan solidaritas atau persetujuan atau bahwa Anda “paham”, dan dengan demikian Anda menaikkan visibilitas postingan mereka kepada orang lain.

Algoritma seperti yang mengoperasikan news feed di Facebook dirancang untuk memberikan apa yang menurut mereka (Facebook) kita inginkan. Ini berarti kehidupan pribadi kita sehari-hari diarahkan, secara kasat mata, untuk memperkuat akar keyakinan kita. Ketika Eli Pariser, pendiri Upworthy, menciptakan istilah “filter bubble” pada tahun 2011, dia mengacu cara kerja personalisasi situs – terutama fungsi pencarian personalisasi Google: hasil pencarian Google yang sama oleh dua orang memberikan jawaban berbeda. Dengan kata lain, kecil kemungkinannya kita terpapar dengan informasi yang berseberangan atau yang memperluas wawasan kita, begitu pula kemungkinan bertemu dengan fakta bantahan atas informasi palsu yang disebarkan orang lain.

Argumen Pariser pada saat itu adalah mereka yang menjalankan perangkat media sosial harus memastikan bahwa “algoritmanya harus memprioritaskan keseimbangan antara pendapat dan berita penting, bukan hanya hal-hal terpopuler atau yang berperan sebagai alat validasi diri”. Tapi dalam jangka waktu kurang dari lima tahun, berkat pengaruh dominan dari perangkat media sosial, filter bubble yang Pariser utarakan telah menjadi jauh lebih ekstrim.

Setelah referendum Uni Eropa, aktivis internet Inggris dan pendiri mySociety melalui postingan di Facebook, Tom Steinberg, memberikan gambaran nyata tentang kekuatan filter bubble– dan konsekuensi serius bagi masyarakat dimana informasi disebarkan melalui media sosial:

Saya aktif mencari (status) pengguna Facebook yang merayakan kemenangan Brexit, tetapi filter buble BEGITU kuat, dan meluas HINGGA jauh ke berbagai hal seperti pencarian dengan bantuan. Saya tidak dapat menemukan seorang pun yang bergembira *meskipun faktanya lebih dari separoh masyarakat Inggris bersorak ria hari ini* dan meskipun saya secara *aktif* ingin mendengarkan apa yang mereka katakan.

Masalah ruang-gema ini sekarang SANGAT parah dan SANGAT  kronis sehingga saya hanya bisa meminta tolong kepada rekan-rekan yang bekerja untuk Facebook dan media sosial dan teknologi besar lainnya untuk segera mendesak pemimpin mereka apabila mereka tidak melihat hal ini sebagai permasalahan serius sama saja dengan secara aktif mendukung dan mendanai upaya untuk merobek struktur masyarakat kita … Kita menjadi negara dimana separoh dari populasinya tidak tahu mengenai separoh pupulasi lainnya.

Tetapi meminta perusahaan teknologi untuk “melakukan sesuatu” tentang filter bubble sama saja menganggap masalah ini dapat dengan mudah diperbaiki – bukan sebaliknya memusatkan perhatian pada gagasan dasar sosial media yang dirancang untuk memberikan apa yang Anda dan teman Anda ingin lihat.


Artikel lanjutan: bagaimana teknologi mengaburkan kebenaran (bagian 2)

No more articles